Gubernur Kaltim, Awang Faroek
(kanan) bersama Gubernur Riau, Rusli Zainal (kedua kanan), Gubernur
Jabar, Ahmad Heryawan (kedua kiri) dan Pjt Gubernur Sumut, Gatot Pujo
Nugroho (kiri) mengikuti pengarahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono
kepada Gubernur, Bupati/Walikota, Panglima Daerah Militer dan Kepala
Kepolisian Daerah Seluruh Indonesia di Jakarta, Jumat (30/11).(A)
SWARA DELI
Kamis, 29 November 2012
PENGARAHAN PRESIDEN
Presiden Susilo Bambang
Yudhoyono memberikan pengarahan kepada Gubernur, Bupati/Walikota,
Panglima Daerah Militer dan Kepala Kepolisian Daerah Seluruh Indonesia
di Jakarta, Jumat (30/11).(a)
Pilgub Ajang Jualan Isu Etnis
Panggung
kampanye pilgub Sumut 2013 diprediksi bakal menjadi ajang umbar isu-isu etnis.
Isu-isu substansif seperti pendidikan, kesehatan, pertanian, nelayan, dan
hal-hal lain yang menyentuh langsung kebutuhan rakyat, diperkirakan bakal diabaikan.
Pengamat
politik Sabar Sitanggang menyebutkan, tanda-tanda para pasangan cagub-cawagub
bakal lebih banyak jualan isu etnis, sudah terlihat jelas sejak masa penetapan
cagub-cawagub. Dimana, komposisi etnisitas menjadi pertimbangan utama.
"Bisa
dilihat misalnya, cagub mengincar pasangan cawagub dari etinis Jawa. Ini karena
suara dari etnis Jawa sangat signifikan," ujar Sabar Sitanggang di
Jakarta, kemarin.
Lebih
lanjut, doktor sosiologi jebolan Universitas Indonesia (UI) itu mengatakan, para
cagub-cawagub akan menggarap isu etnis lantaran mayoritas masyarakat Sumut
masih tergolong masyarakat tradisional.
"Hanya
10 persen yang rasional. Selebihnya, 80 hingga 90 persen masih tradional, yang
hanya bisa didekati dengan isu-isu pinggiran, bukan substansial. Yang mayoritas
ini masih bicara etnisitas," terang dia.
Dikatakan,
penggarapan isu etinis itu tidaklah salah karena merupakan realitas sosial yang
harus dihadapi. Terlebih, lanjutnya, demokrasi juga selalu bicara tentang
keterwakilan. Namun, jika tidak
hati-hati, isu etnis yang sensitif ini bisa memicu konflik sosial.
Dia
menyarankan, meski isu etnis digarap,
isu substansial juga harus digeber saat kampanye nanti. Pasalnya, meski
warga rasional hanya sekitar 10 persen, namun mereka merupakan masyarakat
kritis, yang akan mengawal kepemimpinan Sumut ke depan. Jika buruk, masyarakat
kritis yang hanya sedikit ini yang akan teriak-teriak.
Sabar
menjelaskan, isu-isu substansial yang juga bisa menggaet simpati antara lain
isu pendidikan, kesehatan, pertanian, kehidupan nelayan, juga buruh.Isu
pendidikan antara lain menyangkut infrastruktur, seperti sekolah, dan
pendidikan gratis hingga tingkat SMU misalnya.
Pengobatan
gratis bagi warga, lanjut dia, juga harus ada cagub-cawagub yang berani menawarkan
saat kampanye nanti. "DKI dan Sumsel berani memberikan pengobatan gratis,
mengapa Sumut tak bisa?" cetus Sabar.
Isu
buruh juga sangat sensitif untuk diangkat, yang bisa menarik suara bagi
cagub-cawagub. Ini lantaran jumlah buruh di Sumut sangat besar. "lihat
saja rumah-rumah pekerja perkebunan, dari dulu sangat memprihatinkan. Ada nggak
calon yang berani menyentuh soal itu?" imbuhnya lagi.
Juga,
tidak ada satupun calon yang berani menjanjikan pemberian asuransi bagi
nelayan. Nelayan, yang jika kerja harus bertaruh nyawa di lautan dan
meninggalkan anak istri berhari-hari, pasti suka jika ada calon yang berani
menjanjikan pemberian asuransi bagi nelayan. "Dan nelayan di Sumut itu
banyak," pungkas Sabar. (j)
Cagub Diminta Dukung Pembentukan Provinsi Nias
Seluruh pasangan calon gubernur-wakil gubernur Sumatera Utara diminta menegaskan komitmennya mendukung penuh gagasan pembentukan Provinsi Nias.
Langkah
ini dinilai penting agar pulau terluar di wilayah Indonesia Barat in, dapat
lebih cepat mengejar ketertinggalan dari sejumlah daerah lain di
Indonesia.Demikian secara khusus dikemukakan Bupati Nias Barat, Adrianus
Aroziduhu Gulö, kemarin di Jakarta.
“Selain
harus benar-benar merealisasikan janji untuk memajukan Nias, para calon saya
pikir juga perlu mewujudnyatakan komitmennya mendukung secara penuh pemekaran
Nias menjadi sebuah provinsi,” katanya.
Gulo
yakin dengan dimekarkan, Nias nantinya dalam tempo beberapa tahun paling tidak
dapat jauh lebih maju dari yang sekarang.
Karena
selama ini, salah satu kendala adalah
jauhnya jarak dari ibukota provinsi, apalagi dari ibukota negara.
Sehingga kerap perhatian yang diberikan pemerintah pusat menjadi sulit
terlaksana. (j)
KA Ujicoba Medan-Kualanamu Dilempari
Ujicoba gerbong kereta api yang diproyeksikan akan digunakan sebagai transportasi alternatif dari Medan menuju Bandara Kualanamu, Kamis diwarnai aksi pelemparan batu oleh orang tidak dikenal (OTK).
Peristiwa itu terjadi, saat kereta api ujicoba itu melintas di kilometer 16, tepatnya di seputaran Desa Aras Kabu, Kabupaten Deliserdang.
Humas PT. KAI Divre I, Hasri menjelaskan, karena insiden yang tidak diinginkan itu, gerbong terakhir kereta api mengalami kerusakan. Dimana sejumlah kaca di bagian belakang gerbong terakhir pecah.
Untungnya, kata Hasri, gerbong tersebut tidak berpenumpang pada saat kejadian, sehingga tidak ada korban. "Tidak, ada korban. Karena semua penumpang yang ikut dalam ujicoba tidak ada yang menempati gerbong tersebut," aku Hasri yang dikonfirmasi wartawan via telepon selulernya.Diterangkannya mengenai ujicoba kereta api itu, pihaknya mengikutsertakan rekanan bisnis dan manajemen PT. KAI Divre I.
Pihak Manajemen dan rekanan ingin mengetahui jarak tempuh kereta api dari Medan-Kualanamu yang berjarak Atas kejadian ini, manajemen PT.KAI berencana membuat pengaduan kepihak kepolisian.
"Kita sudah koordinasi dengan Polsus (Polisi Khusus) kereta api dan mereka yang akan melanjutkan pengaduan kita ke kantor polisi yang berwenang di wilayah kejadian," tegasnya.
Laju kecepatan Kereta Api (KA) pengangkut penumpang menuju Bandara Kualanamu dari stasion Besar Medan belum maksimal. Ditargetkan KA tiba di Bandara Kualanamu 30 menit dari stasion Besar Medan.
"Lajunya belum sesuai yang diharapkan, maksimal lajunya 90-100 kilometer perjam, sehingga waktu tempuh sekitar 30 menit, penumpang dapat terhindar dari keterlambatan jadawal keberangkatan," demikian disampaikan Vice President Divre 1 Sumut-Aceh, PT Kereta Api Indonesia (KAI), M Nasir, saat ditemui baru selesai mengelar ujicoba kontruksi rel, di lokasi pembanguna Bandara Kualanamu, Kamis (29/11), sekitar pukul 15.30 wib.
Dijelaskan, dirinya belum dapat memastikan kapan jadwal penyelesaian pekerjan proyek pembangunan terminal serta sarana pendukung lainnya yang berada di lokasi Bandara Kualanamu. Namun, khusus untuk kontruksi lintasan kereta api atau rel telah selesai dikerjakan mencapai 100 persen. Bahkan kegiatan ujicoba telah tiga kali digelar.
Ujicoba kali ini, meliputi ujicoba kontruksi perlintasan KA, ujicoba ruang terbuka dan kecepatan, meski jarak tempuh dari stasiun pusat kota Medan menuju Bandara Kualanamu masih belum mencapai target 30 menit. Dalam uji coba kali ini KA hanya mampu mencapai kecepatan 70-80 kilometer per jam sehingga waktu tempuh KA sekitar 40-45 menit.
Disebutkanya hasil ujicoba yang ketiga kali ini, masih ditemukan kendala berupa di Wilayah Deliserdang, seperti di Bandar Klipah, Batang Kuis, dan Aras Kabu, yang diperkirakan baru selesai akhir tahun 2012 ini. Kemudian diujicoba ruang terbuka masih banyak ditemukan ranting-ranting pohon di sekitar perlintasan yang mengganggu kelancaran operasional kereta api.
Disebutkan, rombongan Vice President Divre 1 Sumut-Aceh, PT KAI menumpang lokomotif tenaga diesel dengan mengandeng enam gerbong, memboyong pihak perbankan. Disana, rombongan sempat mengabadikan suasana pembangunan terminal KA yang masih dalam proses pembangunan.
Direncanakan terminal KA berkafitas besar bahkan lebih besar dari stasion besar KA di Medan. "Kita perkirakan terminal KA ini mampu menampung ribuan penumpang," kata M Nasir mengakhiri. (j)
Peristiwa itu terjadi, saat kereta api ujicoba itu melintas di kilometer 16, tepatnya di seputaran Desa Aras Kabu, Kabupaten Deliserdang.
Humas PT. KAI Divre I, Hasri menjelaskan, karena insiden yang tidak diinginkan itu, gerbong terakhir kereta api mengalami kerusakan. Dimana sejumlah kaca di bagian belakang gerbong terakhir pecah.
Untungnya, kata Hasri, gerbong tersebut tidak berpenumpang pada saat kejadian, sehingga tidak ada korban. "Tidak, ada korban. Karena semua penumpang yang ikut dalam ujicoba tidak ada yang menempati gerbong tersebut," aku Hasri yang dikonfirmasi wartawan via telepon selulernya.Diterangkannya mengenai ujicoba kereta api itu, pihaknya mengikutsertakan rekanan bisnis dan manajemen PT. KAI Divre I.
Pihak Manajemen dan rekanan ingin mengetahui jarak tempuh kereta api dari Medan-Kualanamu yang berjarak Atas kejadian ini, manajemen PT.KAI berencana membuat pengaduan kepihak kepolisian.
"Kita sudah koordinasi dengan Polsus (Polisi Khusus) kereta api dan mereka yang akan melanjutkan pengaduan kita ke kantor polisi yang berwenang di wilayah kejadian," tegasnya.
Laju kecepatan Kereta Api (KA) pengangkut penumpang menuju Bandara Kualanamu dari stasion Besar Medan belum maksimal. Ditargetkan KA tiba di Bandara Kualanamu 30 menit dari stasion Besar Medan.
"Lajunya belum sesuai yang diharapkan, maksimal lajunya 90-100 kilometer perjam, sehingga waktu tempuh sekitar 30 menit, penumpang dapat terhindar dari keterlambatan jadawal keberangkatan," demikian disampaikan Vice President Divre 1 Sumut-Aceh, PT Kereta Api Indonesia (KAI), M Nasir, saat ditemui baru selesai mengelar ujicoba kontruksi rel, di lokasi pembanguna Bandara Kualanamu, Kamis (29/11), sekitar pukul 15.30 wib.
Dijelaskan, dirinya belum dapat memastikan kapan jadwal penyelesaian pekerjan proyek pembangunan terminal serta sarana pendukung lainnya yang berada di lokasi Bandara Kualanamu. Namun, khusus untuk kontruksi lintasan kereta api atau rel telah selesai dikerjakan mencapai 100 persen. Bahkan kegiatan ujicoba telah tiga kali digelar.
Ujicoba kali ini, meliputi ujicoba kontruksi perlintasan KA, ujicoba ruang terbuka dan kecepatan, meski jarak tempuh dari stasiun pusat kota Medan menuju Bandara Kualanamu masih belum mencapai target 30 menit. Dalam uji coba kali ini KA hanya mampu mencapai kecepatan 70-80 kilometer per jam sehingga waktu tempuh KA sekitar 40-45 menit.
Disebutkanya hasil ujicoba yang ketiga kali ini, masih ditemukan kendala berupa di Wilayah Deliserdang, seperti di Bandar Klipah, Batang Kuis, dan Aras Kabu, yang diperkirakan baru selesai akhir tahun 2012 ini. Kemudian diujicoba ruang terbuka masih banyak ditemukan ranting-ranting pohon di sekitar perlintasan yang mengganggu kelancaran operasional kereta api.
Disebutkan, rombongan Vice President Divre 1 Sumut-Aceh, PT KAI menumpang lokomotif tenaga diesel dengan mengandeng enam gerbong, memboyong pihak perbankan. Disana, rombongan sempat mengabadikan suasana pembangunan terminal KA yang masih dalam proses pembangunan.
Direncanakan terminal KA berkafitas besar bahkan lebih besar dari stasion besar KA di Medan. "Kita perkirakan terminal KA ini mampu menampung ribuan penumpang," kata M Nasir mengakhiri. (j)
Jalinsum Siantar - Medan
Sejumlah pelajar bergelantungan di pintu mobil dan
bagian atap angkutan kota tanpa mempedulikan keselamatan diri. Foto
direkam Kamis pukul 17.16 WIB di Jalinsum Siantar-Medan Km 4 Kota
Pematangsiantar, di dekat persimpangan menuju Nagori Karang Sari,
Simalungun. (A)
Realitas Globalisasi Dianjurkan "Manggadong"
Manggadong (makan umbi-umbian
sebelum makan nasi) yang telah menjadi tradisi leluhur dan sebagai kearifan
lokal masyarakat Tapanuli, ke depan dinilai perlu lebih dikembangkan menjadi
budaya nasional agar masyarakat tidak hanya tergantung pada nasi saja.
“Manggadong perlu dikembangkan
lagi, tidak hanya makan umbi-umbian saja terutama ubi jalar, tetapi kemudian
perlu diperkaya dengan makan ubi kayu, talas, jagung, pisang dan lainnya
sebelum mengkonsumsi nasi,” kata Guru Besar Fisipol Universitas Gadjah Mada (UGM)
Prof Tadjuddin Noer Effendi di Medan Kamis.
Menurut dia, memang secara
budaya, makanan pokok sebagian besar masyarakat Indonesia adalah beras, namun
di beberapa daerah, makanan pokok masyarakat turun temurun adalah jagung, sagu,
ubi kayu dan ketela rambat.
Secara turun temurun
keanekaragaman pangan itu telah terbukti dapat membantu tegaknya ketahanan,
kedaualatan dan kemandirian pangan.
“Kedepan budaya warisan leluhur
itu perlu pertahankan agar kita dapat mempertahankan kedaulatan pangan yang
belakangan ini mulai rentan sebagai akibat globalisasi, diikuti merembesnya
budaya pangan yang tidak berbasis budaya pangan lokal,” katanya.
Menurut dia dewasa ini realitas
menunjukkan bahwa globalisasi, liberalisasi ekonomi dan pasar bebas telah
membuka peluang pasar nasional dan lokal untuk dibanjiri impor produk pangan
dari berbagai negara, dan dari tahun ketahun impor itu terus meningkat.
Implikasinya adalah
ketergantungan pada impor menjadi realitas yang sedang dihadapi saat ini.
Ketergantungan tidak hanya pada pengadaan makanan pokok beras, tetapi pada
bahan makanan lainnya, seperti kedelai, jagung dan daging.
Bahkan ketergantungan juga
terjadi pada bahan pangan seperti garam, bawang dan buah-buahan. Kalau ini
terus menerus berlangsung maka pada suatu saat dapat memunculkan situasi
kerentanan kedaulatan pangan.
Sebagai contoh pada bulan Juli
tahun 2012 harga kedelai meningkat tajam karena pasokan kedelai impor dari
Amerika Serikat berkurang akibat produksi kedelai merosot sebagai akibat musim
kering disana.
Kondisi ini mengindikasikan
bahwa ketergantungan pada bahan pangan impor mengakibatkan berkurangnya pasokan
dan mendorong terjadi kenaikan harga di pasar dalam negeri. Belajar dari
pengalaman itu maka sudah saatnya seluruh komponen bangsa perlu menyikapi
situasi kerentanan pangan itu.
“Ketergantungan bahan pangan
pada impor harus kita kurangi. Salah satu upaya yang perlu dilakukan adalah
menegakkan kemandirian dan kedaulatan pangan dengan membangun budaya pangan
berbasis pengetahuan dan kearifan lokal yang telah eksis berabad-abad dalam
budaya bangsa Indonesia,” katanya.(a)
Langganan:
Postingan (Atom)
