SWARA DELI




Senin, 22 Oktober 2012

Adalah Dia Diatas Segalanya ….

 


Catatan : Jenda Bangun

Anugerah dan bencana adalah kehendakNya, kita mesti tabah menjalaniHanya cambuk kecil agar kita sadar, adalah Dia di atas segalanya Hohohoo… adalah Dia di atas segalanya

( Untuk Kita Renungkan : Ebiet G Ade )
--------------------
Demikian tembang legendaris ini berkumandang, mengiringi isak tangis dan suara tersekat seorang ibu yang sedang berbicara dengan keluarganya via selular.Derai air mata luruh membasuh wajah sembari menyebut asma Allah pertanda ikhlas. Allahu Akbar … Betapa remuknya asa di dada dibantai dahsyatnya bencana. Hikmah apa sebenarnya yang dapat diambil dari tragedi gempa Aceh, Nias, Bengkulu, Jogja, Tasikmalaya, Padang, Jambi dan kemarin di Maluku ? Secara singkat dapat dikatakan yakni pembelajaran.Ya … tentu sambil merenungkan langkah selanjutnya, yang dilakukan untuk membaca peringatan dini (early warning system) sebelum bencana mendera serta rakus menelan korban. Artinya , supaya ratusan bahkan ribuan jiwa tidak melayang sia-sia. Lalu, lembar demi lembar rupiah dapat diselamatkan dari dampak gempa yang meluluhlantakkan infrastruktur, atau ekonomi masyarakat yang memang sudah kupak – kapik ini. Belum penuh penanggalan sebulan gempa bumi "mengunjungi" kota-kota di Jawa Barat-Tasikmalaya, Garut, dan Cianjur yang menjadi kota-kota terparah.Sekarang tangis pilu warga Padang Sumatera Barat, membahana di seantero Nusantara. Tempat tinggal mereka hancur berantakan digoyang gempa berkekuatan 7,6 skala Richter. Ribuan orang dipastikan tewas dalam musibah ini, malah ada yang mendata , angkanya akan terus bertambah.Banyak alat deteksi dini (early warning system) untuk gempa dan tsunami hasil kerjasama beberapa lembaga riset Jerman dengan lembaga riset Indonesia yang telah dibangun di daerah Sumatra Barat ternyata hilang dicuri. Kalau ditinjau dari sisi kondisi ekonomi rakyat saat ini, tentu ada skala kewajaran.Short term memory rakyat lebih dominan mengenal urusan perut hari ini dari pada menanti gempa yang entah kapan terjadi. Nahasnya, gempa akhirnya terjadi, tanpa pernah terdeksi oleh alat canggih miliaran rupiah yang tidak berfungsi.Masyarakat yang tinggal di daerah "langganan" gempa, alangkah baiknya kembali meneladani kearifan lokal masyarakat tradisi akan tanda-tanda datangnya bencana. Seperti, turunnya hewan-hewan pegunungan saat gunung berapi sebentar lagi meletus.Warga Pulau Simeulue Nangroe Aceh Darussalam misalnya, orang tua di daerah ini selalu menasihati anak-anaknya tentang bagaimana menyelamatkan diri bila air laut pasang. Hebatnya, saat tsunami 2004 silam, penduduk kawasan ini, yang berada paling dekat dengan pusat gempa, justru minim korban.Demikian juga gejala alamiah yang masih diperbincangkan.Sehari sebelum gempa dahsyat yang memakan korban ribuan jiwa, warga sekitar Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), sempat melihat adanya awan (mereka menamakan awan cirrus) yang membentang dari Utara ke Selatan. Pembelajaran ini juga, layaknya disikapi serius pemerintah. Tiba saatnya masyarakat mulai dilatih menyiapkan konstruksi bangunan tahan gempa. Tentu bukan hanya wacana yang digelindingkan pascabencana, melainkan harus dipraktikkan oleh masyarakat luas, terutama daerah-daerah rawan gempa.Masyarakat yang tinggal di daerah "langganan" gempa, sebaiknya kembali meneladani kearifan lokal masyarakat kita, akan tanda-tanda datangnya bencana. Seperti, turunnya hewan-hewan pegunungan saat gunung berapi sebentar lagi meletus.Di Pulau Simeulue Nangroe Aceh Darussalam contoh berikutnya, orang tua di daerah ini selalu menasihati anak-anaknya tentang bagaimana menyelamatkan diri bila air laut pasang. Hebatnya, saat tsunami 2004 silam, penduduk kawasan ini, yang berada paling dekat dengan pusat gempa, justru minim korban.Pertanda lain, meski gejala alamiah ini masih diperbincangkan, sehari sebelum gempa dahsyat yang memakan korban ribuan jiwa, warga sekitar Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), sempat melihat adanya awan (mereka menamakan awan cirrus) yang membentang dari utara ke selatan. Pembelajaran ini juga, layaknya disikapi serius pemerintah. Masyarakat harus mulai dilatih menyiapkan konstruksi bangunan tahan gempa. Tentu bukan hanya wacana yang digelindingkan pascabencana, melainkan harus dipraktikkan oleh masyarakat luas, terutama daerah-daerah rawan gempa.Di Indonesia, iklim politik memang ikut memecah konsentrasi penanganan bencana dan prioritas dana. Sebagai contoh, berita ketanggapan pemerintah daerah pada kasus banjir di Jawa Timur seperti tenggelam oleh berita elite yang memperebutkan kursi Gubernur yang harus diulang beberapa kali. Maka jangan salahkan bila kemudian rakyat mengira bahwa terlantarnya mereka saat ini karena dana yang dimiliki elite politik telah tersedot habis lantaran pilkada. Sangatlah wajar bila resep penanggulangan bencana pemerintah selama ini perlu dikritisi oleh para wakil rakyat dan rakyat perlu mendorong wakilnya menuntaskan agenda-agenda penting penanggulangan bencana. Karena bencana rutin datang tanpa ada perbaikan dari tahun ke tahun dari sisi monitoring atau penanggulangan pascamusibah. Hal ini dilakukan tentu saja untuk meminimalkan jumlah korban, meskipun datangnya gempa tidak satu pun yang tahu, berapa kekuatannya, termasuk berapa jumlah korbannya. Sebab, cuma Tuhan yang Mahatahu ke mana lagi gempa dahsyat akan "berkunjung" ……. adalah Dia diatas segalanya (Posted )

Tidak ada komentar:

Posting Komentar