SWARA DELI




Senin, 22 Oktober 2012

Selamat Jalan " Tawar Bangger"



Lang adi aku turang kam kel ateku
Man lape-lape tendiku nggeluh
Tapi labanci turang ateku jadi
Peraten “Tuhan Dibata” nirangke kita
…….
Meganjangsa bide-bidena
Mekapalsa baleng – balengna
Siman tingkahen njumpai kena
(Perpeltep Ketang – Drs Hendry Bangun)

Demikian tembang melankolis ini saya lantunkan, mengiringi kegalauan hati dan suara tersekat, pasca menerima kabar kepergian Drs Hendry Bangun menghadap Tuhan Minggu siang (21/11).Satu lagi seniman “besar” Bumi Turang meninggalkan komunitasnya dan mewariskan karya – karya akbar. Hikmah apa sebenarnya yang dapat diambil dari kepergian pria yang lahir lahir di Desa Suka 6 Mei 1956 ini ? Secara singkat dapat dikatakan yakni pembelajaran.Ya , ternyata Tuhan Maha Pencipta lebih sakti ketimbang mahluk yang ada di bumi ini. Memang , ratusan karya lagu , drama panggung maupun sinetron yang ditorehkan Hendry Bangun di blantika mudik Karo tidak melayang sia-sia dan bukan sebatas “ Layam – Layam Sitangkai Ndoli”. Sebaliknya, bisa bisa menjadi “ Tawar Bangger” bagi seluruh warga Karo ketika merindukan barisan nada – nada khas suami Asmaria Br Ginting ini.Bagi klan Tambar Malem – tanpa mengenyampingkan penghargaan kepada klan lain – terbukti banyak tonggak sejarah di seni Karo sudah dilakukan.Sebut saja Darmi Peranginangin yang sangat sederhana itu melahirkan tembang melankolis yang sukar dicari tandingannya.Ingat lagu “Belo La Ertangke “ atau “ Ula Salahi Si Laersalah “ ?.Itu sebagian diantara karyanya. Samion Pinem dan Tio Fanta generasi Tambar Malem yang melejit lewat bendera kelompok musik “ Bengkel Junior ”.Kelompok yang kuat dalam pemilihan lagu pop dengan lead saxsophone dengan lagu abadinya berjudul “Ngerondong” Ada lagi generasi Tambar Malem yang sangat minimalis dalam pemanfaatan musik di awal karirnya.Dia adalah Pinta Bangun yang kondang dengan karyanya bertajuk “ Pengadilan Ngena Ate “ . Lain lagi Raja Edward Sebayang.Karyanya cukup deras degan label bendera KES 21,diantaranya “Ketak-ketak Lau Bampu”.Selain mencipta ia juga bernyanyi dalam setiap album rekamannya. Masih ada lagi catatan lain semisal Asmani Peranginangin,Panca Sebayang dan Faisal Peranginangin.Masing – masing pernah menorehkan karyanya di benak penggemar lagu daerah Karo. Bergantian muncul nama penyanyi Tambar Malem diantaranya Arus Peranginanin , Maria Magdalena Br Keliat , Sri Malem Br Bangun , Erwina Br Bangun , Simson Bangun , John Lewi Keliat serta Netty Vera Br Bangun.Seluruhnya tampil dengan tatanan karya serta sosok yang unik dan spesial. Menyebut nama – nama diatas belum sempurna tanpa melirik tonggak sejarah seni modern etnis Karo.Hendry Bangun, PNS Pemkab Karo yang pernah bergabung di Riamor Band Batukarang Ayah dari Kapten (P) Kariady Bangun , Eviany Br Bangun, SE , Sastroy Bangun,S.Sos, Revikadeny Br Bangun ini sangat energik dan ramah manakala diajak membicarakan karya seni.Ketika dirawat di RS Pirngadi Medan , saya sempat meminta agar seluruh karyanya didokumentasikan.Jawabnya , nanti apabila kesehatannya sudah prima.Tanya memang tidak terjawab sampai sekarang seakan menyebutkan karya nyata dalam seni dikembalikan kepada masyarakat sebagai pemiliknya.Lihat saja karya sinetronya yang pernah menjuarai lomba antara TVRI se-Indonesia, tidak banyak yang tahu.Bahkan di jejaring sosial nama Hendry Bangun malah tidak ditemukan profilnya.Padahal lewat “Beru Rengga Kuning” ( 1990) dan “Perlanja Sira” ( 1993) ia buktikan kehebatannya menyabet juara 2.Belum lagi “Mate ras Mate” yang booming , “ Tawar Gegeh” dan drama rohani meramaikan HUT Moria GBKP ke-50.Justin Tarigan sebagai mitra berkeseniannya menyebutkan Hendry Bangun pekerja keras di bidangnya tanpa berharap puja - puji.Kinerjanya yang lurus dan bersahaja banyak diwarisi rekan – rekan. “ Saya kehilangan dia.Firasat atas itu sudah saya terima Rabu malam kemarin.Lewat mimpi saya lihat dia memasuki rumah baru, mengenakan jas baru dan cuma menoleh kepada saya. Seakan – akan dia ingin mengatakan teruskan kegiatan kami , ujar Justin.Pertua Emeretus Drs Hendry Bangun terbujur kaku di Jambur Lige Kabanjahe di hadapan seluruh keluarga dan kerabat.Ia sudah diabadikan dalam pakaian kebesaran seorang "Pertua" GBKP lengkap dengan jas dan stolanya.Dan tanah basah di Kutakepar Desa Suka Kecamatan Tiga Panah siap mendekap layaknya menyambut seorang putra terbaik yang kembali ke asalnya.Seabreg kesan yang diwariskannya kepada keluarga , pemerintah maupun masyarakat lainnya sudah menjadi konsumsi.Pergilah dengan damai wahai seniman besar .... Selamat Jalan .( Jenda Bangun)
(Posted )

Tidak ada komentar:

Posting Komentar